{"id":2368,"date":"2017-12-07T13:30:13","date_gmt":"2017-12-07T06:30:13","guid":{"rendered":"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/?page_id=2368"},"modified":"2023-08-31T08:21:43","modified_gmt":"2023-08-31T01:21:43","slug":"laboratorium-mikrobiologi","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/laboratorium-mikrobiologi\/","title":{"rendered":"Laboratorium Mikrobiologi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Laboratorium mikrobiologi adalah laboratorium yang didesain secara khusus untuk keperluan praktikum atau eksperimen yang berhubungan dengan mikrobiologi. Mikrobiologi merupakan cabang ilmu dari biologi yang khusus mempelajari jasad-jasad renik. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani ( micros=kecil, bios=hidup, dan logos=pengetahuan ) sehingga secara singkat dapat diartikan bahwa mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mahluk-mahluk hidup yang kecil-kecil. Mahluk-mahluk hidup yang kecil-kecil tersebut juga dengan mikroorganisme, mikroba atau jasad renik.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled261.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2552 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled261-300x224.jpg\" alt=\"Untitled26\" width=\"300\" height=\"224\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled261-300x224.jpg 300w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled261-400x300.jpg 400w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled261.jpg 420w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laboratorium Mikrobiologi harus mempunyai sejumlah alat yang dapat menunjang proses praktikum dan penelitian didalamnya. Diantara alat alat tersebut, ada alat-alat yang khusus digunakan di dalam Mikrobiologi dan ada juga yang tidak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menunjang kesuksesan praktikum maupun eksperimen maka diperlukan peralatan khusus di laboratorium Mikrobiologi. Dibawah ini ada beberapa peralatan mikrobiologi yang bias amati wujudnya dan fungsi dari alat alat tersebut :<\/p>\n<h4><\/h4>\n<h4><\/h4>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>1. Autoclaf<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled110.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2553 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled110-177x300.jpg\" alt=\"Untitled1\" width=\"177\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled110-177x300.jpg 177w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled110.jpg 185w\" sizes=\"auto, (max-width: 177px) 100vw, 177px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Autoclaf di laboratorium mikrobiologi\u00a0 digunakan untuk mensterilisasi suatu benda ataupun media dengan menggunakan uap bersuhu tdan bertekanan tinggi (121 derajatC, 15 lbs). Waktu sterilisasi adalah sekitar 15 menit dihitung setalah suhu autoclaf mencapai 121 derajat celcius. Beberapa alat bahan yang sering disterilisasi dengan autoclaf antara lain media, bahan yang mudah terbakar misalnya jas lab dll.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>2. Oven<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled27.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2554 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled27-177x300.jpg\" alt=\"Untitled2\" width=\"177\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled27-177x300.jpg 177w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled27.jpg 185w\" sizes=\"auto, (max-width: 177px) 100vw, 177px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oven adalah alat pemanas tertutup yang bisa diatur suhunya dan untuk jenis oven terkini dapat diatur timer-nya ( waktu nyalanya). Ada bermacam macam oven antara lain oven manual dan oven listrik. Oven manual biasaya sumber panasnya dengan memanfaatkan sumber api seperti kompor atau sumber yang lain, sedangkan oven listrik adalah oven yang sumber panasnya dihasilkan dari proses perubahan energi listrik menjadi energi panas dengan menggunakan alat yang bernama elemen listrik.<br \/>\nFungsi Oven dilaboratorium mikrobiologi biasanya digunakan sebagai alat sterilisasi dengan menggunakan panas kering. Suhu yang diatur sekitar 180 derajat celcius.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>3.\u00a0Cawan Petridish<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled32.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2555\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled32.jpg\" alt=\"Untitled3\" width=\"200\" height=\"137\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cawan petri atau istilah lainnya petri dish merupakan peralatan dasar di laboratorium mikrobiologi. Cawan petridish\u00a0 mempunya banyak kegunaan antara lain:<br \/>\na. Di laboratorium mikrobiologi digunakan untuk tempat perkembangbiakan mikroba,<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify;\">Tempat Menimbang bahan<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Tempat mengeringkan sample<br \/>\nBahan pembuat cawan petridish juga ada bermacam macam, ada yang menggunakan petri dish sekali pakai ( mono use ) ada juga yang menggunkan cawan petri dari bahan yang dapat dipai berkali kali. Semua tergantung dari tujuan masing-masing<\/li>\n<\/ol>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>4.\u00a0Batang Ose\u00a0 Ujung Bulat dan\u00a0 Ose Ujung Lurus<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled41.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2556 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled41-161x300.jpg\" alt=\"Untitled4\" width=\"161\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled41-161x300.jpg 161w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled41.jpg 172w\" sizes=\"auto, (max-width: 161px) 100vw, 161px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Batang ose merupakan alat yang digunakan untuk melakukan inokulasi. Bentuk batang ose mirip dengan batang pengaduk hanya saja dibagian ujung terdapat kawat dan ada yang berbentuk kolongan ada juga yang lurus. Bentuk kawat pada ujung ose mempunyai kegunaan yang sedikit berbeda. Pada batang ose ujung kolongan biasanya digunakan untuk inokulasi pada media cair\u00a0 sedangkan ose yang berbentuk lurus biasanya digunakan pada inokulasi dengan cara metode gores pada media agar.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>5.\u00a0Tabung Reaksi dan Tabung Durham<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled51.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-2557\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled51-180x300.jpg\" alt=\"Untitled5\" width=\"180\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled51-180x300.jpg 180w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled51.jpg 192w\" sizes=\"auto, (max-width: 180px) 100vw, 180px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tabung reaksi di Laboratorium mikrobiologi biasanya digunakan sebagai tempat pengenceran\u00a0 atau digunakan tempat menyimpan media. Sedangkan tabung durham adalah alat bantu yang digunakan sebagai indikator pada pengujian mikrobilogi dengan metode MPN. Bentuk tabung durham sama dengan tabung reaksi akan tetapi ukuran tabung reaksi lebih kecil dibandingkan dengan tabung reaksi, silahkan lihat gambar disamping. Cara penggunaan tabung reaksi adalah dengan menempatkan Tabung durham pada tabung reaksi dengan posisi terbailk. Tabung durham\u00a0 sebagai alat bantu indikator adanya fermentasi. Jika tabung durham terdapat gelembung\u00a0 menandakan adanya fermentasi. Alat ini biasa dipakai pada pengujian mikroba dengan metode MPN( Most Probable Number)<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>6.\u00a0Pengaduk L<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled24.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-2546\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled24-300x130.jpg\" alt=\"Untitled24\" width=\"300\" height=\"130\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled24-300x130.jpg 300w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled24.jpg 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fungsi : Untuk meratakan sampel\u00a0 yang dimasukkan kedalam media yang ada di cawan petridish dengan cara diputar.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>7.\u00a0Lampu Spirtus<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><strong><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled25.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2547 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled25-177x300.jpg\" alt=\"Untitled25\" width=\"177\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled25-177x300.jpg 177w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled25.jpg 189w\" sizes=\"auto, (max-width: 177px) 100vw, 177px\" \/><\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lampu spirtus adalah lampu pemanas api dengan bahan bakar dari spirtus.Pada laboratorium mikrobiologi lampu spirtus mempunyai beberapa fungsi \/ kegunaan, antara lain :<br \/>\na. Sterilisasi ( memijarkan ose) sebelum inokulasi sample<br \/>\nb. Mengkondisikan area dalam kondisi aseptis dengan jarak max dari pijaran lampu spirtus\u00a0 30 cm<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>8.\u00a0Rak Tabung Reaksi<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled26.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-2548\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled26-300x211.jpg\" alt=\"Untitled26\" width=\"300\" height=\"211\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled26-300x211.jpg 300w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled26.jpg 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\"><strong>9. Desikator \/ Eksikator<\/strong><\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled61.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2558 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled61-180x300.jpg\" alt=\"Untitled6\" width=\"180\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled61-180x300.jpg 180w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled61.jpg 192w\" sizes=\"auto, (max-width: 180px) 100vw, 180px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fungsi : 1. Digunakan sebagi tempat untuk mendinginkan alat \/ bahan.<br \/>\n2. Menyerap uap air setelah pengeringan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>10.<\/strong>\u00a0<strong>Oven<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled71.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-2559\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled71-300x184.jpg\" alt=\"Untitled7\" width=\"300\" height=\"184\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled71-300x184.jpg 300w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled71.jpg 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oven adalah alat yang digunakan pula dalam melakukan sterilisasi. Berbeda dengan autoklaf, oven tidak memanfaatkan panas uap air untuk melakukan sterilisasi. Oven dapat mensterilkan barang-barang dengan memanfaatkan aliran udara panas. Aliran udara panas tersebut didapatkan secara elektrik. \u00a0Barang-barang yang disterilkan oleh oven antara lain cawan petri, labu erlenmeyer, pipet, dan objek metal (Collins &amp; Lyne, 2004: 45). Barang pecah belah tersebut akan tergores dan rusak apabila diberikan panas uap air (Harley &amp; Prescott, 2002).<br \/>\nKelemahan sterilisasi menggunakan oven adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan sterilisasi cukup lama, yaitu sekitar dua jam. Temperatur yang diizinkan untuk melakukan sterilisasi pada oven, berkisar antara 160-170 \u00b0C. \u00a0Apabila lebih dari 180 \u00b0C, barang yang disterilisasi akan menjadi gosong (Harley &amp; Prescott, 2002).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>11.\u00a0Sentrifugator<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled81.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2560 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled81-177x300.jpg\" alt=\"Untitled8\" width=\"177\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled81-177x300.jpg 177w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled81.jpg 189w\" sizes=\"auto, (max-width: 177px) 100vw, 177px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sentrifugator adalah alat yang digunakan untuk mempelajari struktur dan fungsi suatu komponen sel. Prinsip kerjanya adalah dengan memisahkan atau memfraksionasi setiap komponen sel berdasarkan berat jenis dari tiap komponen sel. \u00a0Alat tersebut memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan mengendap dan substansi yang lebih ringan akan berada di atas. \u00a0Jika kecepatan sentrifugator semakin meningkat, komponen yang lebih ringan akan mengendap di dasar. \u00a0Komponen sel yang mengendap disebut pellet, dan komponen sel yang tersuspensi di atasnya disebut supernatan. Pellet yang berhasil didapatkan nantinya akan dipelajari lebih lanjut untuk diketahui fungsinya (Campbell &amp; \u00a0Reece, 2009).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>12.\u00a0\u00a0Inkubator<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled91.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-2561\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled91-175x300.jpg\" alt=\"Untitled9\" width=\"175\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled91-175x300.jpg 175w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled91.jpg 187w\" sizes=\"auto, (max-width: 175px) 100vw, 175px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menginkubasi atau mengerami suatu biakan. \u00a0Inkubator menyediakan kondisi temperatur yang optimum untuk mikroorganisme bisa melakukan pertumbuhan. Inkubator memiliki alat pengatur suhu, sehingga temperatur dapat diatur sesuai biakan yang akan diinkubasi. Inkubator memanfaatkan panas-kering seperti oven. Pada beberapa jenis inkubator, kelembapan disediakan dengan memberikan air di dalam inkubator selama periode pertumbuhan mikroba. \u00a0Lingkungan yang basah memperlambat dehidrasi pada medium sehingga menghindari kondisi lingkungan yang bias (Cappuccino &amp; Sherman, 2001).<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>13.\u00a0Colony Counter<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled101.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-2562 alignleft\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled101-184x300.jpg\" alt=\"Untitled10\" width=\"184\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled101-184x300.jpg 184w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled101.jpg 196w\" sizes=\"auto, (max-width: 184px) 100vw, 184px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Colony Counter Adalah alat bantu yang digunakan untu menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan dimedia yang disimpan dalam cawan petridish. Jenis colony counter ada yang otomatis dan semi otomatis, untuk yang otomatis adalah penghitungan jumlah sudah dilakukan secara otomatis oleh sistem komputerisasi. Sedangkan yang semi otomatis adalah perhitungan dengan cara menyentuh bakteri yang tumbuh kemudian alat akan menghitung secara otomatis.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000080;\"><strong>14.\u00a0Mikroskop ( Mikroskop Binokuler)\u00a0<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><strong><a href=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled111.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-2563\" src=\"http:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled111-171x300.jpg\" alt=\"Untitled11\" width=\"171\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled111-171x300.jpg 171w, https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/Untitled111.jpg 182w\" sizes=\"auto, (max-width: 171px) 100vw, 171px\" \/><\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mikroskop adalah sebuah alat untuk melihat objek yang sangat kecil ( tidak bisa dilihat dengan mata telanjang). Kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah dilihat dengan mata.Mikroskop ditemukan oleh Antony Van Leuwenhoek, dimana sebelumnya sudah ada Robert Hook dan Marcello Malphigi yang mengadakan penelitian melalui Lensa yang sederhana. Lalu Antony Vn Leuwenhoek mengembangkan lensa sederhana itu menjadi lebih kompleks agar dapat mengamati protozoa , bakteri dan berbagai makhluk kecil lainnya. Setelah itu pada sekitar tahun 1600 Hanz dan Z Jansen telah menemukan mikroskop yang dikenal dengan mikroskop ganda yang lebih baik daripada mikroskop yang dibuat oleh Antony Vaan Leuwenhoek. Mikroskop berasal dari dua buah kata yaitu mikro yang artinya adalah kecil dan dari kata scopium yang artinya adalahh pengelihatan . Mikroskop adalah suatu alat yang berada didalam laboratorium yang memberikan bayangan dari benda yang diperbesar hingga ukuran tertentu hingga dapat dilihat dengan mata. Mikroskop cahaya memiliki tiga dimensi lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop.Lensa okuler pada mikroskop bias membentuk bayangan tunggal (monokuler) atau ganda (binikuler).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laboratorium mikrobiologi adalah laboratorium yang didesain secara khusus untuk keperluan praktikum atau&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-2368","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/2368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2368"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/2368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3652,"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/2368\/revisions\/3652"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poltekkes-denpasar.ac.id\/kesehatanlingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}