headerphoto

Peningkatan Kompetensi Ahli Madya Gizi Dalam Penilaian Status Gizi Dengan Praktek Lapangan

Sabtu, 11 Juni 2011 12:08:00 - oleh : A.A.N Kusumajaya,SP.,MPH

Seorang ahli gizi dituntut untuk memiliki kopetensi yang diperlukan agar dapat secara profesional berperan di masyarakat. Sebagai seorang ahli madya gizi diperlukan sebanyak 44 Kompetensi didasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.374/Menkes/SK/III/2007, tentang Standar Profesi Gizi.

 

Kompetensi yang diperlukan dalam penilaian status gizi diantaranya adalah melakukan penapisan gizi (nutrition screening) pada klien/pasien secara individu, serta melakukan monitoring dan evaluasi asupan gizi/ makan pasien. Untuk mencapai kompetensi ini mahasiswa Jurusan Gizi perlu mengikuti kuliah Penilaian Status Gizi (PSG) pada Semester IV. Pada mata kuliah PSG diberikan berbagai teori penilaian status gizi serta melakukan serangkaian praktek yang diperlukan baik di kelas maupun di lapangan. Pada semester IV tahun 2011 ini dilakukan Praktek Lapangan (PL) Penilaian Status Gizi (PSG) di Desa Anseri dan Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali pada hari Sabtu, 28 Mei 2011. Pelaksanaan praktek lapangan PSG dilakukan di dua SD yaitu SD 3 Anseri dan SD 4 Bangli.

 

Setiap mahasiswa diwajibkan untuk melatih keterampilannya dalam melakukan penilaian status gizi dengan melakukan pengukuran antropometri pada siswa kelas 3-5 di kedua SD tersebut. Pengukuran antropometri dilakukan dengan mengukur tinggi badan (TB) menggunakan microtoise dan berat badan (BB) dengan timbangan injak. Kedua data antropometri tersebut digunakan untuk menentukan status gizi menggunakan software Anthro Plus WHO 2007. 

 

Selain penentuan status gizi secara antropometri, dilakukan juga penilaian konsumsi makanan siswa. Penilaian konsumsi makanan dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Untuk menentukan kuantitas makanan siswa SD dilalukan penilaian konsumsi makanan dengan menggunakan metode recall. Metode recall  ini dilakukan dengan mananyakan kepada setiap siswa SD seluruh makanan yang dimakan hari kemarin dari bangun tidur sampai malam dan tidur kembali selama 24 jam. Pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan data konsumsi yang lebih valid, pada metode recall  makanan perlu dilakukan secara bertahap dengan pertama menanyakan seluruh jenis makanan yang dikonsumsi sejak bangun tidur sampai menjelang tidur kembali dengan mencatat jam/waktu makan, setelah seluruh jenis makanan terkumpul kemudian diulang sekaligus menanyakan porsi makanan dalam ukuran rumah tangga (URT). Langkah selanjutnya data porsi dalam URT tersebut diterjemahkan dalam porsi dalam gram dan selanjutnya dihitung total konsumsi zat-zat gizi yang dikonsumsi. Secara kualitatif data konsumsi makanan dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui kebiasaan makan anak sekolah diantaranya kebiasaan makan pagi (sarapan), makanan sumber protein yang sering dikonsumsi, atau jajanan yang biasanya dibeli.

 

Keahlian lain yang dipraktekkan adalah menentukan status gondok anak sekolah. Untuk menentukan status gondok dilakukan palpasi pada anak sekolah. Standar yang digunakan untuk menentukan status gondok anak sekolah dengan menggunakan standar Perez.

 

Pada praktek lapangan (PL) ini setiap mahasiswa calon ahli gizi melatih ketiga keterampilan diatas yang secara teoritis telah mereka dapat di kelas. Saat melakukan praktek setiap mahasiswa akan mendapatkan panduan dan pengawasan dari pembimbing dan mendiskusikan setiap langkah-langkah yang dilakukan dalam praktek sehingga setiap mahasiswa akan lebih terampil dalam melakukan penilaian status gizi. Tampaknya kegiatan praktek lapangan ini sangat positif untuk lebih meningkatkan kompetensi yang diperlukan sebagai seorang calon ahli madya gizi (Anak Agung Ngurah Kusumajaya, SP.,MPH.)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Praktek Kerja Lapangan" Lainnya